Rabu, 13 Maret 2013

PENALARAN DENGAN METODE INDUKTIF


Menurut Wikipedia, penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Jadi sebenarnya tanpa disadari, manusia dengan tidak sadar telah melakukan penalaran. Penalaran bukan hanya menjadi bahan ajar bahasa Indonesia, tetapi hal yang biasa dilakukan oleh tiap-tiap individu. Sehingga jika diartikan kedalam bahasa sehari-hari, penalaran adalah hal yang dilakukan oleh panca indra kemudian diproses menjadi suatu kesimpulan yang menghasilakan pengertian yang dapat dimengerti oleh akal pribadi kita. Seperti contohnya, kita melihat bahwa pada saat terjadi banjir yang terjadi pada Jakarta karena salah satu faktornya disebabkan oleh maraknya membuang sampah secara sembarang oleh masyarakat yang tinggal.
Dalam melakukan penalaran, salah satu metodenya adalah metode induktif. Metode induktif yaitu yaitu penarikan kesimpulan dari pernyataan yang bersifat khusus kesuatu yang bersifat umum.[1] Metode ini digunakan untuk melihat secara detail sesuatu. Metode induktif sendiri terbagi kedalam 3 macam, yaitu paragraf generalisasi, paragraf analogi dan paragraf kausal (sebab-akibat).
Paragraf generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fakta atau gejala khusus yang diamati lalu ditarik kesimpulan umum tentang sebagian atau seluruh gejala yang diamati itu. Secara umum, generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang diamati.
Sebagai contoh dari paragraf generalisasi :
Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar memperkirakan bahwa kekeringan di sejumlah daerah tidak akan mengganggu stok beras nasional. Bahkan, rencana impor 2007 akan diundur untuk 2008 karena produksi beras dalam negeri dalam beberapa bulan mendatang mencukupi kebutuhan nasional. Mustafa menjelaskan bahwa stok beras per Juli 2007 sebanyak 1,63 juta ton cukup untuk kebutuhan nasional selama 7 bulan. Rencana pengadaan 1,8 juta ton tahun ini sudah terpenuhi 1,53 juta ton dari pembelian beras petani. Impor beras 2008 diperkirakan hanya 1,3 juta ton, lebih sedikit 200.000 ton dari rencana impor tahun 2007. Dengan demikian, cadangan beras nasional masih dapat mencukupi kebutuhan pangan masyarakat dan tidak perlu dikhawatirkan sampai akhir 2007.
Yang kedua yang akan dibahas adalah tentang paragraf analogi. Analogi sendiri memiliki arti ‘diibaratkan’ untuk memudahkan menjelaskan sesuatu yang terjadi disekitar kita. Pengertian dari paragraf analogi adalah proses penalaran yang berdasarkan pada pembagian dan terhadap sejumlah gejala khusus yang memiliki kesamaan, kemudian ditarik kesimpulan.
Agar lebih memahami paragraf analogi, berikut merupakan contoh dari paragraf analogi :
Perubahan alam semesta yang mengembang dapat dijelaskan dan disimpulkan dari apa yang terjadi pada balon karet yang dikembungkan. Sebelumnya, balon karet itu diwarnai. Ketika dikembungkan, warna pada balon karet itu ikut mengembang. Semakin besar balon itu mengembang, semakin pudar warnanya. Warna itu memudar karena warna makin berkurang dan mengembang. Cahaya bintang-bintang di angkasa juga semakin berkurang intensitasnya. Para ahli menyimpulkan bahwa bintang-bintang itu makin menjauh dari kita dan alam semesta pun mengembang.
 Sedangkan untuk paragraf kausal atau sebab-akibat memiliki pengertian bahwa penalaran yang dimulai dengan mengemukakan fakta yang berupa sebab dan sampai pada kesimpulan yang merupakan akibat. Dimana sebab sebagai ide pokok dan akibat sebagai ide penjelas. Akan diuraikan contoh mengenai paragraf kausal (sebab-akibat) agar mudah membedakan antara paragraf generalisasi, paragraf analogi dan paragraf kausalnya sendiri. Ini merupakan contoh dari paragraf kausal :
Sepuluh tahun yang lalu hutan bakau dibabat habis-habisan. Lahan bekas hutan bakau didisulap menjadi tambak-tambak udang windu. Memang, pada waktu itu pengusaha udang windu memperoleh keuntungan besar karena harganya sangat mahal di luar negeri. Akan tetapi, setelah udang windu tidak laku lagi di pasaran internasional, para pengusaha kembali ke kota dan meninggalkan kerusakan lingkungan sebagai akibat dari pembabatan hutan bakau yang telah dilakukan beberapa tahun yang lalu. Laut menjadi tercemar karena hutan bakau yang berfungsi sebagai penyaring limbah yang masuk ke laut sudah tidak ada lagi. Saat ini, puluhan ribu nelayan sulit menghidupi keluarganya karena tidak ada ikan yang bisa ditangkap di tepi pantai

[1] Sutrisno Hadi, Metodologi Research, jilid 2, Cet. XVII: (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM, 1985), hlm. 242.
http://pengertianpengertian.blogspot.com/2012/05/pengertian-metode-induktif.html
http://mulyanto36.wordpress.com/2011/08/06/menyimpulkan-informasi-dengan-teknik-induktif-dan-deduktif
http://dedisetiawan.com/pengertian-paragraf-induktif-deduktif-generalisasi-analogi-dan-sebab-akibat
http://carapedia.com/paragraf_analogi_info697.html
http://carapedia.com/paragraf_generalisasi_info1968.html
http://carapedia.com/paragraf_sebab_akibat_info1966.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar